Rumah Cerdas Cibubur

House for smart children

Mereka pun telah belajar bernegosiasi sejak kecil by dokter vivi dokter parenting

Wed, 12/17/2014 - 20:53 -- admin

'Brak' suara itu memecah keheningan disore hari, diikuti suara debuman buku-buku berjatuhan yang tak kunjung berhenti, Suara teriakan-teriakan sahut menyahut pun tak kunjung usai mencuri konsentrasiku membaca sebuah buku psikologi anak yang baru kubeli. Dan tak beberapa lama kemudian terdengar langkah-langkah kecil yang berkejaran seakan dikejar oleh barisan anjing yang siap menerkam. Umi, umi UMMMIIIII, teriakan tiga orang malaikat kecil ku seakan tak memperdulikan keasyikan tenggelam dengan bukuku sore itu. Kalau aku ingat memandangi ketiganya saat mereka tidur sepertinya amatlah indah kusebut mereka malaikat kecil tapi untuk keberadaan mereka yang sekarang ini sepertinya kata itu jauh dari harapan kalau tetap akan kupakai pastilah aku akan ditertawakan serombongan semut hitam yang merayap didinding. Lebih tepatnya saat itu mereka seakan seperti serombongan pasukan yang siap bertempur sampai titik darah penghabisan. '

Ada apa ? tanya ku pada mereka. UMI kan itu kamarku kan masak aku disuruh pindah dan diobrak-obrik barangku tanpa ijin sama adik-adik, teriaknya sambil menangis menggugu. Anak kedua pun tak kalah seru menyatakan pembelaannya, 'Enggak Umi, aku dah bilang aku pengen di kamar itu, terus aku kan mau bantu kakak pindahan, eeee si kakak malah marah-marah sama teriak-teriak, terus aku kan bantu bawa bukunya Eeeee sama kakak ditarik jadi jatuh semua' terus kakak marah-marah sama aku.' ' HUH' begitu ujar si anak kedua untuk menandaskan bahwa dia yang benar dan si kakak yang salah.' Iya mi, iya mi' sahut anak ketiga si penggembira, yang selalu mencari mana yang lebih menguntungkan membela kakak pertama atau membela kakak kedua. '

Enggak Mi, enggak kayak gitu, mesti adik-adik itu gitu, mesti suka merebut dari aku mesti mesti mi, ujar kakak sambil tergugu dan nangisnya pun naik level. Iya Mi, gitu mi , iya mi , gitu mi ujar para adik. 'Phuuufffhhhhhh, kepalaku pun seakan ikut berdentum mengikuti teriakan-teriakan tiga krucil yang ada dihadapanku, membayangkan kilas balikku sendiri sebagai anak tunggal yang tidak ada 'fase rebutan-rebutan' ala demonstran seperti ini.'Sahut-sahutan teriakan pun terus berlangsung dengan ramainya seakan-akan sudah ditetapkan menjadii 12 ronde karena mereka bukannya capek malah semakin semangat 45 dalam bicara. ' Boleh umi bicara?' sahutku, suaraku pun seakan terbang dihempas angin sore itu, seolah bagaikan anai-anai yang bertembangan dengan ringannya.

Mereka pun seakan lupa ada orang lain disekitar mereka, mereka terus saja berkata' aku yang benar, aku yang benar. Kuulangi lagi kata-kataku, ' Boleh umii bicara?' sekali lagi suara itu bagaikan lenyap terhempas didasar samudra mungkin suara itu telah ditelan oleh ikan sungut gada dilapisan dark zone. Akhirnya dititik kepeningan yang ikut berdenyut mendengar suara mereka, mulailah suara ikut naik ibarat sedang ikut acara orkestra kelas dunia.

' BOLEH UMI BICARA ANAK-ANAK? 'serempak ketiga anak tanpa dikomando memandangku seolah bagaikan seorang ratu yang akan memberikan titah yang bisa membela salah satu diantara mereka. Tentu saja masing-masing sepertinya berpikir bahwa uminya ini akan membela dirinya. OK, umi punya aturan, ' Mau ikut aturan umi? ketiganya menganguk, karena mereka telah tahu saat umi bicara tentang aturan saat mereka tidak mengindahkan sepertinya akan lebih tidak menguntungkan. 'Ok, aturan pertama umi, saat nanti umi bicara semua mendengarkan, 'kita belajar menghormati saat orang lain bicara', setuju? setujuuuuu sahut mereka bebarengan.aturan kedua, ' saat masing-masing cerita tidak boleh ada menyela, setuju?' setujuuuuuuu, sahut mereka lagi.

Nah, sekarang umi mau dengar cerita dari Kakak, begitu kami biasanya memanggilnya sebagai kakak pertama dirumah. Ayoo kak cerita gimana tadi kejadiannya. Gini lho Mi tadi aku di kamarku terus Adik minta tukar kamar terusssss belum selesai kakak bercerita dengan tuntas si adik tiba-tiba memberondong kata-kata kakaknya 'enggak enggak gitu. 'STop' gimana aturannya saat ada orang yang bicara? 'mendengarkan.......................,sahut sang adik. Alhasil si kakak pun dapat menuntaskan versi ceritanya sampai selesai tanpa ada yang menyela, dialnjutkan siadik nomor dan ditutup dengan cerita si adik nomor tiga dengan tuntas.

'Ya Rabb, ternyata inilah alasan mengapa Engkau menciptakan dua telinga dan satu mulut, ternyata saat menjadi orangtua haruslah lebih banyak mendengar daripada berbicara. 'Ternyata saat mendengar cerita tiga malaikat kecilku, aku bisa lebih tahu duduk permasalahannya. Okay anak-anak umi sudah dengar cerita semuanya, 'Nah, sekarang umi bicara aturan dirumah ini. Orang-orang yang ada di rumah ini adalah keluarga, keluarga itu saling menyayangi dan menghormati.Apabila ada sesuatu yang kurang benar maka dibenarkan. Umi akan beri waktu 10 menit untuk kalian semua berbicara, silahkan diputuskan yang terbaik, tanpa marah-marah, bicara yang tenang, keputusan diputuskan bersama untuk menjadi bagian dirumah ini. Silahkan berbicara dulu diteras 'pastikan kontrol suara' jika sudah siap boleh masuk kembali ke rumah, umi ingin dengar keputusannya. sekarang sudah pukul 4 sore berarti pukul 4 lebih sepuluh menit umi akan dengar hasilnya, ingat aturannya yang ingin menjadi bagian dari keluarga ini harus bisa saling menyayangi dan menghormati.

'Setuju?' tanyaku pada ketiganya. Setujuuuuuuu, Ketiganya pun melangkah mantap ke teras rumah, kudengar dari balik kaca mereka menyampaikan argumennya masing-masing, dan tawaku pun harus kutahan saat melihat gaya kakak memmpin rapat ala mereka, yang sama persis dengan ku seperti berkaca dengan diri sendiri. Waktu didinding pun terus bergulir, saat waktu perundingan meja persegi karena diteras tidak meja bundar kurang tiga menit, aku pun melangkah keluar dan berkata pada mereka 'waktunya kurang tiga menit lho'. ' Iya Mi sebentar lagi@ jawab sang kakak. IYa mi dikit lagi sahut sang adik. Aku pun berusaha kembali tenggelam dengan bacaannku tapi tidak dapat kupungkiri keingintahuanku atas keputusan mereka lebih menggelitikku sore itu. Saat yang ditunngu pun tiba, ketiganya kembali kehadapanku tidak dengan lari-lari penuh kemarahan, tetapi dengan langkah pasti penuh percaya diri. 'Udah mi, sudah diputuskan, 'aku pindah ke kamar adik, adik pindah kekamarku, nanti pindahannya adik bantu aku dulu baru aku bantu adik setelah itu. 'Oh Okay' sahutku, great idea. 'Gitu dik?' iya mi, jawab dua orang adik ini penuh semangat. Okaylah kalau begitu, 'Umi juga setuju atas keputusannya.

Nah, kira-kira nih enak mana ya kalau kita bicara sambil teriak-teriak apa bicaranya biasa aja dan tenang tapi adakeputusannya. ' Biasa aja dan tenangggg' Koor tiga orang yang ada didepanku. 'Okay, umi bangga dengan kalian semua hari ini sudah bisa memutuskan sendiri dengan baik keputusannya tinggal dilaksanakan.

Alhamdulillah episode sore itu berakhir dengan bahagia, walau dalam hitungan detik kedua kamar itu seakan terhempas angin tornado dengan alasan 'pindahan'walauu lebih banyak bercandanya.'ya sudahlah bagian dari konsekuensi pengambilan keputusan, aku pun tetap tersenyum melihat dua kamar yang semula rapi menjadi amat amburadul. aku pun belajar banyak hikmah sore itu, biasanya oangtua akan naik pitam saat si anak berteriak-teriak karena berselisih pendapat dengan saudaranya dan sikap orangtua yang memihak kepada salah satu anak akan memperparah konflik itu semakin meruncing bahkan sampai dewasa.

' Dan muncullah slogan 'orangtua pilih kasih' yang menyebabkan anak tidak cinta pada saudarnya bahkan rela berkonflik dengan saudaranya hanya karena warisan.Hilanglah hati yang lembut menyayangi dan mencintai saudaranya. Kisah sore ini menjadikan aku banyak belajar dan bersyukur, bahwa setiap anak bisa belajar berkomunikasi, semoga ini menjadi bekalmu kelak nak dalam bernegosiasi dengan orang lain dan menghsilkan keputusan yang tebaik untuk semuanya.

Category: 
Rumah Cerdas Cibubur
Perumahan Taman Laguna 
Blok I No. 7 & 9 Cibubur
(Belakang RS Permata Cibubur)
Telp  0877-8118-7775
rumah cerdas cibubur